Tampilkan postingan dengan label tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tegal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

Teh Gopek 4

sebungkus teh ini saya beli di sebuah supermarket di kawasan pasar baru. toko swalayan tersebut terletak di gedung metro pasar baru. sekarang gedung ini akan dibangun apartemen dan mal yang lebih modern di bagian bawahnya. kira2 saya beli disana tahun 2005 atau 2006.

bukannya iseng masuk karena memang dulu saya sempat kost di daerah kartini - pasar baru. kan kalo jalan2 ke pasar baru setiap saat mudah. masuk ke swalayan ternyata kebanyakan berisi teh bunga krisan dari china, kurang senang karena merupakan teh celup. sedang saya lebih cenderung mengkoleksi yang teh tubruk.
entah sekarang masih ada tidak toko tersebut. yang penting saya sempat beli teh gopek super ini. dan di toko swalayan lain juga jarang ditemukan. ntar kalo ada waktu, masuk dan hunting teh lagi. sebagian besar bungkus menggunakan kertas samak atau kertas yang digunakan untuk menyampul buku pelajaran. sedang untuk menutp menggunakan 2 potong kertas yang sudah dicetak dengan tulisan teh gopek disisi satunya dan sisi lainnya berupa identitas produksi.


Teh Gopek 3

kali ini edisi teh gopek yang sering atau mudah kita temukan di swalayan atau toko2 kelontong atau toko2 di pasar. mungkin untuk desain ini merupakan desain awal yang semula dipakai sebagai merek dagang-nya teh cap gopek dan dipakai hingga sekarang. tapi nanti jika sempat coba akan saya buka buku register merk dan cari tentang teh cap gopek.
ini kemasan sebelum ada barcode
coba perhatikan logo yang berada di bagian samping, warna hijau seperti bintang segi empat. ini yang muncul sebelum adanya barcode sehingga gambar tampil lebih besar. coba bandingkan dengan gambar dibagian bawah ini :
sudah ada barcode
sudah jelas dan paham kan? saya tidak apal persisnya kapan penggunaan barcode ini. mungkin perkiraan tahun 2002, betul? bungkus yang terpampang ini merupakan kertas yang digunakan untuk mengemas teh gopek dalam bungkus sedang. yang biasanya dalam 1 pak berisi 10 bungkus teh. karena yang kemasan besar desain produknya sama, saya cenderung untuk tidak membeli dan mengkoleksinya.
desain teh gopek hijau ini tidak ada bedanya dengan yag edisi putih. hanya ditambahi warna hijau saja dah berbeda. teh gopek warna hijau banyak ditemukan di daerah jogja dan sekitarnya. untuk yang warna putih banyak berdar di banyumas. dulu ambil di warungnya ibu mertua. matur nuwun lho bu...

Teh Gopek 2 - Cap Lotto

ini adalah salah satu varian teh yang diproduksi oleh perusahaan teh gopek, slawi - tegal. daerah pemasarannya banyak ditemukan di sekitar cirebon. waktu itu sedang main dan jalan-jalan ke rumah teman yang berdomisili di cirebon. tujuan utamanya adalah mencari gambar umbul, tapi tak lupa juga cari teh kemasan lokal. waktu itu gambar umbul dapat dan juga beberapa bungkus teh. salah satunya adalah Teh Gopek Cap Lotto.
istilah Lotto diambil dari salah satu jenis permainan judi yang tenar pada tahun 70-an. mau searching info tentang teh ini cukup sulit. yang muncul hanya permainan judinya. ini saya dapat pada tahun 2003 atau 2004. cukup lama juga ya...

Teh Gopek 1 - Slawi Tegal

sementara ini, saya unggah kemasan teh gopek dalam bungkus kecil dulu. teh gopek banyak ditemukan di daerah banyumas untuk yang bergambar bebek. kalau pengen jelas, ini gambarnya...
teh gopek gambar bebek
minumlah selamanya
gambarnya tidaklah familiar dengan ikon teh gopek yang selama ini mudah kita kenal, yang berupa gambar cangkir yang kemebul uap panasnya. ntar nunggu giliran diunggah. unggah kemasan teh yang aneh-aneh dulu ya.
awas jangan diminum untuk foto teh yang berada dalam bungkus ini, tehnya sudah 5 tahun lebih terbeli. artinya sudah kadaluwarsa dan memabukkan selamanya. bungkus teh ini adalah kelebihan dari yg sudah dipajang dan dibuka untuk dicoba seduhan tehnya serta bungkusnya disimpan untuk dipajang dalam album.
bungkus teh setelah dibuka



















ini cerita sejarahnya. diambil dari website-nya teh gopek.


SEJARAH TEH GOPEK
Perusahaan Teh Gopek didirikan di Slawi sekitar tahun 1942, bersamaan dengan jaman penjajahan Jepang di Indonesia. Pada awalnya, perusahaan Teh Gopek dimulai sebagai Home Industry dengan peralatan sederhana. Teh Gopek merupakan salah satu teh legendaris yang mempunyai cita rasa khas.
Nama Gopek mengambil makna dari pucuk daun teh yang bagus, yaitu Golden Orange Pekoe. Selain itu, nama Gopek juga berasal dari nama tengah 5 pemuda keluarga Kwee, yaitu Kwee PEK Tjoe, Kwee PEK Hoey, Kwee PEK Lioe, Kwee PEK Lo alias Tjokro Hadisusilo, dan Kwee PEK Yauw alias Tedjo Sukmono.
Alih-alih seperti pria kaya seusianya yang lebih banyak menghabiskan masa tua di vila dengan istri tercinta, sesekali bersama cucu-cucu, Kwee Pek Yauw lebih memilih duduk mengawasi pabrik keluarga yang dibangun bersama keempat kakaknya sekitar 70 tahun silam. Sekilas ia terlihat masih gagah. Namun ternyata, Yauw tak dapat lagi berinteraksi dengan orang lain terlalu lama. Maklum, penyakit jantung dan penyakit tua lainnya kian menggelayut di tubuh bungsu keluarga Pek ini, yang membuatnya tak boleh berbicara terlalu lama. "Senyum dong Bah ..," celoteh para wanita setengah baya dari balik jendela pabrik, meledek Babah Yauw yang tengah difoto fotografer SWA Hendra Syaukani..
Gopek lahir berkat gagasan Kwee Pek Tjoe. Awalnya, si sulung bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan perkebunan teh di Slawi. Ia banyak belajar tentang bisnis teh poci dari mantan bosnya. Bekal ilmu yang diperoleh kemudian diimplementasi Tjoe dengan mengajak keempat adiknya membangun bisnis teh. Sayang, di tengah jalan Hoey memisahkan diri dari Gopek.
Perpecahan itu terjadi ketika Hoey menikah lagi -- setelah istri pertamanya meninggal dan istri barunya tidak mau merawat anak Hoey yang masih bayi, bernama Hantoro Ekadjaja. Akhirnya, bayi itu diasuh dan diangkat anak oleh Tjoe. Buntut perpecahan keluarga ini, istri baru Hoey mengajak mendirikan Perusahaan Teh 2 Tang, yang belakangan produknya lebih populer ketimbang Gopek.
Ketika Gopek harus diserahkan ke generasi kedua, Tjoe menunjuk Hantoro sebagai penerus bisnis keluarga, dan menjadi pemegang saham mayoritas sebesar 51%. Sementara itu, anak kandung Tjoe: Handoyo Ekadjaja, hanya memegang 18%, dan selebihnya milik Lo dan Yauw.
Fenomena bisnis keluarga yang tak lepas dari sisi negatif, antara lain, kecemburuan satu sama lain dalam tubuh Gopek. Yang satu beli rumah mewah yang lain kepincut. Akhirnya, uang yang semestinya bisa untuk modal usaha atau berekspansi terbuang percuma. Selain itu, keputusan yang menyangkut bisnis perusahaan tidak bisa dilakukan secara cepat, lantaran harus mempertimbangkan pendapat anggota keluarga lainnya yang juga pemegang saham.
Boleh dibilang, di masa generasi kedua (1940-1998) Gopek sangat ketinggalan dibanding pesaingnya, seperti Sosro dan 2 Tang, alias jalan di tempat. Baru setelah Hantoro lengser pada 1998 dan menunjuk putra tunggalnya, Soediono, sebagai pewaris Gopek -- Presdir sekaligus pemegang 51% saham geliat Gopek mulai terlihat.
Di tangan Soediono babak baru Gopek dimulai. Generasi ketiga lulusan pascasarjana bidang keuangan dari Australia itu mulai mengoprek Gopek. Tahap awal, pihaknya membenahi mekanisme distribusi. Gopek yang sebelumnya mengandalkan agen yang tersebar di Pulau Jawa, terhitung sejak 1999 mendirikan perwakilan di beberapa kota.
Sedikitnya satu perwakilan berhasil dibangun setiap tahun sejak 1999. Kelima perwakilan itu terdapat di Surabaya, Semarang, Purwokerto, Slawi dan Jakarta. Kota yang menjadi prioritas pendirian perwakilan Gopek, di mana Gopek pernah eksis, tapi penjualannya cenderung turun. Soediono pun membuat tim spreading perluasan area. Trimo mengakui, strategi seperti ini tak jauh berbeda dari perusahaan teh besar seperti Sosro. Bedanya, Sosro mampu membuat perusahaan distribusi sendiri, sedangkan di Gopek baru divisi.
Selain distribusi, status perusahaan dari firma di ubah menjadi perseroan terbatas, yakni PT Gopek Cipta Utama. Perubahan status usaha ini diiringi ekspansi pabrik. Yauw mengungkapkan, pabrik teh Gopek pertama ia beli pada 1965, tak jauh dari terminal Slawi. Kemudian, Soediono membeli bangunan pabrik persis di depan pabrik pertama, sehingga pabrik tadi memiliki 10 mesin pemanggang. Tahun 2001, kembali ia membangun tiga pabrik, yang masing-masing bangunan luasnya sekitar 1.000 m2. Dengan 10 mesin pemanggang, Gopek dapat memproduksi sekitar 200 karung teh (satu karung isi 30 kg) setiap hari, melibatkan sekitar 500 karyawan -- buruh dan staf kantor.
Sampai sekarang Gopek mengandalkan proses produksi yang masih alami. Dari awal teh hijau Gopek dicampur dengan bunga melati dan gambir. Melati disuplai langsung dari Purwokerto, sementara gambir diperoleh dari daerah sekitar. Untuk teh hijau, pasokan lebih banyak dari Sukabumi, Jawa Barat. Belakangan, tak sedikit perusahaan yang menggunakan essense (zat pewangi). Cara membuktikan teh yang menggunakan essense dengan yang alami, cukup mudah. Cukup melihat kondisi seduhan teh setelah beberapa jam. Yang menggunakan essense akan terlihat langit-langit di permukaan seduhan teh tadi.
Di generasi ketiga ini Gopek mulai berinovasi produk dengan menggunakan strategi ekstensi merek. Yang membedakan dari masing-masing item produk adalah logo atau gambar pada kemasan, misalnya ada teh Gopek bergambar cangkir. Awalnya ada keinginan dari manajemen Gopek membuat produk dengan merek teh Cangkir. Sayang, merek ini telah dipatenkan oleh industri rumahan di Pekalongan. Kelemahannya pada pendiri terdulu, tak terlalu memahami hak paten. Akhirnya, ketika ada yang mematenkan, tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Gopek merupakan pelopor teh kering. Sayangnya, problem internal membuat perusahaan ini tak berkembang cepat. Di pihak lain, 2 Tang mampu berlari kencang. Tak heran, 2 Tang lebih populer dan penetrasi pasarnya lebih kuat ketimbang Gopek. Teh kering Sosro dan 2 Tang kini menguasai pasar dengan pangsa masing-masing 30%, sedangkan Gopek sekitar 25%. Sisanya, diperebutkan Tong Dji dan merek-merek lain. Untuk memantapkan posisi produknya di pasar, sejumlah rencana jangka panjang pun digelar Soediono bersama tim. Ia akan membuat terobosan baru, antara lain, rasa lebih bagus, kemasan lebih baik, ekspansi produk, perluasan wilayah pemasaran dan lainnya.
Tangan dingin Soediono membuahkan hasil. Sejak 1999 perusahaan ini menuai penjualan lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di tangan generasi pertama dan kedua, pertumbuhan penjualan Gopek cuma berkisar 1%-2%, sedangkan di tangan Soediono bisa mencapai 20%. "Maklum, dulu pemiliknya tak berani mengalokasikan dana promosi, tak berani membuka perwakilan apalagi mengintervensi pasar," tutur Trimo yang bergabung dengan Gopek sejak 1999.
Untuk berekspansi pasar, selain membentuk tim spreading, Gopek kini mulai berani membuat inovasi produk dengan sistem testimonial. Artinya, produk baru dilempar dulu ke pasar. Bila minat orang mengonsumsi produk ternyata tinggi, barulah secara serius dipasarkan dengan dukungan promosi yang gencar.
Tak mudah bagi Gopek melancarkan serangan lebih gencar. Pasalnya, perusahaan ini harus berhadapan dengan pesaing tangguh yang punya sejumlah cara menghadang pasar. Tak sedikit produsen teh besar yang melakukan trik sangat kasar, seperti memborong teh yang mereka anggap sebagai pesaing -- termasuk Gopek -- dan menimbunnya. Bahkan gimmick hadiah ke pedagang, misalnya gelas, tak sedikit yang diborong, dikumpulkan lalu dihancurkan. Pertarungan sengit di lini distribusi bagi pemain di bisnis produk konsumsi memang kerap tak terhindarkan. Kita tunggu saja, seperti apa kelanjutan kebangkitan teh Gopek.

Referensi : http://www.tehgopek.com/