ini salah satu celengan kecil yang sangat jauh asalnya, berasal dari daerah malo - bojonegoro - jawa timur. tapi belinya cuma di jogja saja. kok bisa? berkat bantuan bentara budaya yogyakarta, saya dan beberapa penggembira seni bisa memiliki celengan dari tanah liat ini.
seingat saya banyak jenisnya, ada yang seri macan, disamping celengan macan direspon oleh para seniman, ada 2 set celengan seri macan, dari ukuran kecil sampai yang besar, terbeli oleh fotografer kondang jogja.
ini sebagian berita yang mengulas pameran tersebut :
Celengan, Bukan Lagi Sekadar Penyimpan Uang
suara merdeka Kamis, 01 September 2005
BEBARAPA dekade lalu, sebelum
bank tumbuh bagai jamur pada musim
hujan, orang menyimpan uang cukup di bawah kasur atau bantal. Ada pula
yang menyelipkan di sela-sela gedek (dinding rumah dari anyaman
bambu-Red)
rumah. Yang ingin lebih aman, biasanya memasukkan uang ke dalam
celengan.
Ya, celangan dulu memang sangat populer. Terbuat dari tanah liat
dengan
model bermacam-macam dan bentuknya dibuat seperti katak, anjing, kuda,
babi, ayam, dan lembu. Selain itu celengan dari bambu juga digemari.
Kini, celengan tampaknya sudah nyaris punah. Orang lebih gampang
menyimpan
uang di bank, aman dan berbunga. Namun masih ada saja orang-orang yang
berusaha mempertahankan keberadaan celengan dengan mengubah fungsi
sebagai
hiasan.
Belum lama ini di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) berlangsung
pameran
aneka macam celengan berbentuk satwa, mulai dari kucing, celeng, ayam,
dan harimau dengan tajuk "Pameran Celengan Malo". Lihat saja
lima ekor gajah aneka warna, kuning, hitam, merah jambu yang berjajar
rapi
di pojok ruangan. Seekor harimau yang mengenakan kostum superman
terpampang
di tengah-tengah ruangan, mengundang senyum penonton.
Celengan berbentuk hewan yang terbuat dari tanah liat tersebut
dipamerkan
sekaligus dijual untuk umum. Harganya pun cukup murah, ada yang Rp
5.000,
ada pula yang mencapai Rp 50.000. Celengan sapi misalnya, hanya dijual
Rp 35.000.
Harga sebesar itu tidaklah mahal karena celengan juga mendapat
sentuhan
dari seniman-senimam Yogyakarta seperti Yuswantoro Adi yang menorehkan
lukisannya dalam celengan ''Super Macan''. Erica Hestu Wahyuni juga
melukis
sebuah celengan gajah dengan komposisi warna yang diberinya judul
''Gajah
Wisnu in My Mind''.
Sentuhan Seni
Memang, celengan sekarang berubah fungsi dari tempat
penyimpan
uang menjadi hiasan rumah. Bentuknya pun terkena banyak sentuhan seni,
dari fisik sampai lukisannya.
Lebih dari itu, celengan ternyata juga bisa menjadi wadah ekspresi
seseorang
untuk mengungkapkan protes. ''Celengan Panas'' karya Alex Luthfi
misalnya
menggambarkan kritik terhadap merebaknya korupsi di Indonesia. Dia
melukis
bintang, pohon beringin, dan padi kapas di tubuhnya. Celengan kuda itu
dibungkus dengan plastik transparan, sedangkan di bawahnya terdapat
beberapa
uang pecahan Rp 100.000. Di tubuhnya tertulis ''Disita, Barang Milik
Negara.''
Kepala Pengelola Bentara Budaya Yogyakarta, Hermanu, mengungkapkan,
pameran celengan itu bertujuan melestarikan kerajinan rakyat yang
terpinggirkan.
Kerajinan rakyat yang kini dipamerkan itu semuanya berasal dari Dukuh
Karuk, Rendeng, Kecamatan Malo, Bojonegoro, Jawa Timur. Ngadimin salah
seorang perajin menambahkan, kerajinan celengan bagi masyarakat Malo
merupakan
warisan nenek moyang sejak ratusan tahun silam. Saat ini lebih dari 200
keluarga menggantungkan hidup dari membuat celengan.
Setiap bulan rata-rata para perajin mampu membuat 100 celengan aneka
macam bentuk. Celengan setinggi satu meter berbentuk sapi misalnya,
dijual
Rp 50.000, sedangkan yang berbentuk ayam kecil dijual Rp 5.000. (
Agung
PW-39n)